JAMU SESAK NAFAS, ASMA SEMBUH PERMANEN

Kabar gembira, Bagi anda atau saudara/teman anda yang menderita sesak napas,asma, karena merokok atau sebab lain, kini tersedia obatnya, InsyaAllah sembuh, 90 % pasien kami sembuh total, minimal bebas kertegantungan obat. Bagi anda yang ingin mencoba (sample gratis), SMS nama dan alamat , kirim ke 081392593617. Klik Disni

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 03 Juli 2011

Menyentuh Puncak Lima Gunung



P RADITYA MAHENDRA YASA
Ilustrasi: Tari kuda lumping menjadi salah satu pengisi pagelaran seni Komunitas Lima Gunung di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (28/3). Pagelaran seni ini menjadi salah satu ajang ekspresi kesenian rakyat bagi warga lereng Gunung Andong, Merapi, Merbabu, Menoreh dan Sumbing. Para penampil tersebut sebagian besar merupakan petani dan buruh.
Oleh M. Hari Atmoko
Lima tumpeng yang mereka usung, satu demi satu diletakkan di atas "ancak-ancak" itu melalui gerakan performa beriringkan tiupan seruling dan timpukan bunyi bende.
Semburat tipis kemerah-merahan mewarnai latar belakang tubuh kekar Gunung Merapi dan Merbabu nun jauh di timur sana, ketika sejumlah seniman petani berjalan meniti pematang pertanian sayuran sambil mengusung "tumpeng megana" berproperti bunga segar.
Kesunyian alam gunung pagi buta, bertepatan Jumat Kliwon (kalender Jawa, red.), hari pertama pembuka bulan ketujuh dalam penanggalan masehi 2011, ditimpali tiupan seruling dan sesekali bunyi bende yang mereka tabuh dan suara dengung lembut bersama dari mulut mereka.
Mereka adalah seniman petani anggota "Sanggar Saujana Keron", Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pimpinan Sujono.
Masyarakat setempat bagian dari seniman petani Komunitas Lima Gunung (KLG) Magelang yang pada 10 Juli 2011 memasuki puncak Festival Lima Gunung (FLG) ke-10 dengan dipusatkan di Dusun Keron yang berpenduduk sekitar 80 keluarga itu. Festival itu diselenggarakan oleh KLG secara bergiliran setiap tahun, di kawasan Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
Pemimpin tertinggi KLG, Sutanto Mendut, dan Ketua Umum Panitia FLG ke-10, Ismanto, pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang sedang penelitian ilmiah untuk gelar doktornya, Joko Aswoyo, dan pengajar tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Waskito, turut bersama mereka menjalani prosesi kontemporer bertajuk "Sumpah Tanah".
Sujono meniup seruling bambu yang menyeruakkan nada lembut sedangkan seorang anggota komunitas seniman petani dari sanggar itu, Fredy Hanifa, menabuh bende dengan ritme perlahan-lahan seakan menata langkah pelan-pelan para pelaku prosesi yang mengenakan pakaian serba warna hitam, berbalut kain kuning gading, dan berikat kepala kain warna kuning keemasan.
Mereka antara lain mengusung lima tumpeng berisi nasi megana, membawa aneka bunga seperti bogenvil, euforbia, ceplok piring, kenanga, dan reguluk dalam prosesi tersebut, serta sebuah kelapa muda dengan kulit buah warna hijau.
Langkah mereka melalui pematang itu berbelok ke kiri, lalu melewati sejumlah anak tangga jalan setapak dari tanah, sebelum sepetak sawah penuh genangan air dengan gambar pantulan bayang-bayang dua gunung itu yang terlihat jelas.
Beberapa meter mereka melangkah, tiba di pinggir salah satu areal pertanian setempat. Pucuk Merapi terlihat bergerigi pascaletusan akhir 2010, sedangkan separuh tubuh Merbabu seakan sedang dilintasi arak-arakan kabut cukup tebal. Udara pagi terkesan menyentuh cukup sejuk tubuh pelaku prosesi itu.
Langit di atas Merapi dan Merbabu berwarna biru agak gelap dengan semburat kemerah-merahan, pertanda matahari makin bergerak naik.
Mereka kemudian berhenti di tempat cukup longgar di tepi salah satu petak lahan sayuran yang telah dipasang sejumlah tatanan "ancak" terbuat dari rangkaian bambu dengan properti "kelaras" (daun kering pisang) dan beberapa buah kelapa yang sudah dibelah, lalu ditata membentuk bundaran.
Lima tumpeng yang mereka usung, satu demi satu diletakkan di atas "ancak-ancak" itu melalui gerakan performa beriringkan tiupan seruling dan timpukan bunyi bende.
Mereka kemudian duduk bersila di atas rumput. Sujono yang juga pencipta tarian kontemporer berjudul "Topeng Saujana" itu kemudian membuka kelapa muda menggunakan arit dan menegukkan airnya kepada satu per satu pelaku prosesi itu.
Darasan simbol doa secara singkat tidak diungkapkan melalui rangkaian kata-kata panjang, melainkan diwujudkan dalam suara dengungan bersama-sama mereka cukup panjang, sambil tetap bersila menghadap ke timur, ke arah Merapi dan Merbabu.
Suasana hening dan alamiah dengan tusukan hawa sejuk serta tiupan lembut angin terus bertahan di areal pertanian pinggir desa setempat, ketika mereka duduk bersila seakan menghadap sejumlah "altar ancak" itu.
Mereka, melalui prosesi itu, seakan sedang berdoa untuk keselamatan dan kelancaran warga setempat yang akan memulai gotong royong selama seminggu ke depan ini, menghias desanya yang akan menjadi tuan rumah puncak tradisi festival tahunan KLG.
Ismanto secara simbolis memotong tumpeng dan kemudian diberikan antara lain kepada Sutanto Mendut serta beberapa wartawan yang meliput prosesi "Sumpah Tanah" itu. Mereka kemudian secara bersama-sama menyantap "tumpeng megana" itu.
"Prosesi ritual ini sebagai simbol kami membumikan komitmen untuk selalu mencintai tanah, lingkungan alam, dan gunung. Tanah kami menjadi sumber penghidupan masyarakat melalui pertanian, sumber kekayaan inspirasi kami untuk terus bekerja keras dan berkesenian melalui komunitas kami," kata Sujono.
Ia mengatakan, prosesi "Sumpah Tanah" bagian dari festival yang pada 2011 mengusung tema besar "Tembang Kautaman" dengan melibatkan sekitar seribu seniman petani KLG.
Warga setempat, katanya, menjadikan gorong royong membuat panggung pementasan dan memasang berbagai properti dari bahan alam di berbagai tempat di desa tak jauh dari alur Kali Pabelan yang beberapa waktu lalu menjadi jalan banjir lahar Merapi itu, sebagai rangkaian atas FLG ke-10.
"Ini semua membuktikan kuatnya semangat gotong royong sebagai tradisi budaya kami sejak nenek moyang. Ini terjadi karena tanah kami ini kami cintai, karena di sinilah hidup kami berpijak," katanya.
Rencananya, gotong royong warga setempat untuk menuju puncak festival itu akan berlangsung hingga Jumat (8/6). "Energi warga dipusatkan untuk seminggu ini menghias desa," katanya.
Mereka antara lain iuran bambu hingga puluhan batang, mengumpulkan jerami, ranting, dan dedaunan, serta bahan alam pertanian lainnya untuk properti panggung dan lainnya di pasang di sepanjang jalan desa dalam bentuk tatanan umbul-umbul alamiah.
Selain itu, katanya, setiap keluarga juga menyiapkan rumah masing-masing sebagai transit para seniman anggota KLG berasal dari Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh, sedangkan para pemuda menyiapkan areal parkir kendaraan para tamu dan penonton.
Puncak festival mendatang rencananya berupa pementasan berbagai kesenian tradisional, kontemporer, kolaborasi oleh berbagai kelompok seniman petani KLG, kirab budaya melewati jalan desa setempat, pemukulan gong oleh para tokoh KLG, serta orasi budaya.
Kalangan seniman berasal dari beberapa kota di luar daerah itu juga akan menyuguhkan karya mereka di arena festival, sedangkan wartawan Magelang menggelar pameran foto dan peluncuran buku.
Beberapa grup kesenian tradisional sekitar desa itu juga akan pentas di arena festival yang terdiri atas tiga panggung yang bakal dihiasi oleh warga setempat dengan properti berbahan alami itu.
Ismanto mengatakan, panitia terus melakukan berbagai persiapan menuju puncak festival yang telah dikenal secara nasional dan internasional karena berkekuatan kemandirian seniman petani KLG itu.
"Persiapan terus kami lakukan sebagai bagian kerja budaya dan rangkaian festival kami ini. Prosesi ini pun sebagai bagian dari festival kami tahun ini," katanya.
Berbagai pihak terutama seniman, penikmat seni, akademisi lembaga pendidikan kesenian, dan budayawan berasal dari beberapa kota di luar Magelang, katanya, telah mengonfirmasi kepada panitia terkait dengan puncak festival mendatang.
Sutanto mengemukakan, kerja budaya komunitas seniman petani gunung-gunung setempat selama ini makin menguatkan pentingnya upaya menggali kearifan lokal untuk membangun sikap konstruktif atas dinamika kebudayaan global.
Kekuatan eksistensi mereka, katanya, justru karena terus mengolah karya budaya dan kesenian dengan tetap berpijak kepada tanah, kosmologi gunung, dan modal sosial desa.
"Sekadar contoh saja, apa yang mereka jalani melalui prosesi kontemporer ’Sumpah Tanah’ pagi (1/7) ini. Mungkin tak lepas dari inspirasi atas tempat berpijak dan kehidupan kebudayaannya, pertaniannya, harga sayuran, letusan Merapi, banjir lahar, dan refleksi mereka hidup berkesenian selama ini, sebagai bagian dari hidup sehari-hari. Intinya mereka adalah pekerja keras dan bergerak dengan alam gunungnya," katanya.
Ia mengemukakan, prosesi itu juga sebagai eksplorasi kultural mereka atas nilai budaya gotong royong orang desa.
Bisa saja, katanya, mereka menjalani prosesi itu juga sebagai jalan cerdasnya mencatatkan sejarah waktu festival yang rencananya hanya sehari, Minggu (10/7), menjadi selama 10 hari.
"Bahwa gotong royong mereka adalah pementasan tersendiri atas bagian FLG. Mungkin tidak terbesit di benak kita bahwa selama gotong royong, mereka menganyam bayang-bayang kegembiraan dan kebanggaan hati sebagai tuan rumah festival tahunan," katanya.
Sebagai tuan rumah festival, mereka ingin menyentuh puncak nilai gembira itu.

Sumber : Kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Bisnis Online Paling Meunguntungkan
Aduh maaak, terima kasih Tuhan, terima kasih webmaster. Saya bisa kuliahkan anak dan membantu biaya berobat ibu saya yg sakit dengan dana ini. Setelah itu saya betul2 percaya bahwa program bisnis ini bener2 bekerja. Sejak itu saya mulai aktif mempromosikan bisnis ini ke siapa saja, lewat email, milis, sms, dll. Sekarang hasilnya sudah lebih dari 500 juta masuk ke rekening bank saya. Sekali lagi terima kasih webmaster program 5 milyar
. Klik Disini

Salam, Bambang Widjatmoko, Surabaya (Kesaksian)

Informasi penting: Teknik Membeli Rumah Terbaik

Masukkan nama & email anda di sini dan dapatkan informasi properti diatas, GRATIS!

Nama:

Email: