JAMU SESAK NAFAS, ASMA SEMBUH PERMANEN

Kabar gembira, Bagi anda atau saudara/teman anda yang menderita sesak napas,asma, karena merokok atau sebab lain, kini tersedia obatnya, InsyaAllah sembuh, 90 % pasien kami sembuh total, minimal bebas kertegantungan obat. Bagi anda yang ingin mencoba (sample gratis), SMS nama dan alamat , kirim ke 081392593617. Klik Disni

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Senin, 19 Maret 2012

Kabar Magelang : Jumangi, Gatotkaca dari Merapi

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
MENELITI MERAPI: Alzwar Nurman Aji meneliti puncak Gunung Merapi di bekas Pasar Bubrah. (suaramerdeka.com/ MH Habib Shaleh)
MAGELANG -Letusan dahsyat Gunung Merapi Oktober-November 2010 takkan pernah hilang dari ingatan Alzwar Nurman Aji (27). Meski besar dalam keluarga penjaga Merapi namun baru kali ini ia menyaksikan 'amarah' Merapi.
Dengan mata kepala sendiri, Alzwar yang ditugaskan BPPTK Yogyakarta menjaga Pos Selo melihat Merapi berulangkali melontarkan lava pijar. Lontaran material panas ini bahkan mencapai ketinggian 3 km.
Kebetulan saat itu, arah angin dari timur mengarah ke barat (Magelang) sehingga dari Pos Selo Boyolali lontaran material terlihat jelas. Pos Selo sendiri berada di sisi utara Merapi. Letusan tersebut semakin kuat sehingga membentuk kolom asap setinggi lebih dari 10 km.
"Wilayah barat dan selatan lereng Gunung Merapi hitam pekat seperti malam. Namun di Pos Selo terang. Pemandangan ini sangat mengerikan," kata Alzwar, yang menjadi generasi keempat dinasti Kertodikoro.
Kertodikoro merupakan penjaga Gunung Merapi sejak tahun 1920-1957, jejaknya diikuti putra tunggalnya Jumangi yang menjaga Merapi mulai 1930-1970, kemudian Sugiyono 1974-1997. Alzwar sendiri mulai bertugas di Merapi pada 19 Mei 2010. Kondisi yang memburuk membuat para petugas di Pos Selo bergeser ke Desa Selo Duwur, Kecamatan Selo, Kabuaten Boyolali. Desa ini merupakan kampung teratas di lereng Gunung Merbabu.
Perkampungan di sekitar Pos Selo saat itu juga sudah kosong. Warga mengungsi ke wilayah aman demi menghindari dampak letusan Merapi. Setelah dua malam, mereka harus menyelamatkan diri ke Boyolali. "Penduduk sudah kosong. Saya bersama rekan-rekan petugas lari ke Boyolali. Kami juga sudah kehabisan bekal makanan, mau pulang ke Magelang keluarga saya tidak bisa dikontak. Mereka juga mengungsi," kata Alzwar.
Selama tiga minggu, Alzwar tidak bisa berkomunikasi dengan istri dan anaknya. Saat itu, tak ada aliran listrik sementara jalanan dipenuhi abu vulkanik tebal. "Saya baru bisa bertemu mereka sebulan paskaerupsi. Menjadi penjaga Merapi memang harus siap menghadapi resiko," kata Alzwar ditemui di Pos Selo, baru-baru ini.
Pos Selo ini merupakan pos pengamatan Gunung Merapi paling unik. Lokasinya justru berada di punggung Gunung Merbabu dan tidak bisa dijangkau dengan kendaraan. Petugas harus berjalan kaki lewat jalan setapak dan ribuan undak-undakan. Lokasi yang terpencil membuat Alzwar harus membawa bekal untuk tiga hari sekaligus. Untuk diketahui, pengawas Gunung Merapi berganti shif setiap tiga hari sekali. Selama itu, mereka siang-malam harus siap memantau perkembangan aktifitas Merapi.
Apa yang dialami Mardiaya Susanti ini seakan mengulang kisah Kertodikoro dan Jumangi tahun 1930-1931. Bapak dan anak itu menjadi saksi 1.369 jiwa yang tewas akibat hembusan awan panas.
Mereka mencatat, peningkatan aktifitas Gunung Merapi diawali munculnya gempa tremor pada 30 Januari 1930. Pada 25 November muncul lava baru yang posisinya 250 m di bawah lava lama. Hal ini disusul guguran lava ke Kali Senowo, Batang dan Blongkeng di Kabupaten Magelang.
Pada 18 Desember terjadi awan panas sangat besar dengan jarak 11 km ke Kali Batang, kemudian 19 Desember pukul 07.30 WIB terjadi awan panas besar sejauh 12 km yang mengubur 13 desa di sekitar Merapi. Akibatnya, sebanyak 1.369 warga meninggal dunia, termasuk pengamat Budi Kartodihardjo yang bertugas di Pos Maron. Letusan tersebut terjadi akibat longsornya kubah lava lama.
Letusan ini gabungan antara debris avalanche dan awan panas dengan disertai letusan lateral. Jumlah material yang dilontarkan Gunung Merapi saat itu sekitar 26 juta M3. Data-data letusan ini tercatat dengan baik, salah satunya, berkat perjuangan dan jasa besar Kertodikoro dan Jumangi.
Jumangi ini merupakan salah satu 'tokoh besar' dalam sejarah pengamatan Gunung Merapi. Pria yang menjaga Merapi selama 40 tahun ini mulai bertugas selepas sunat. Saat itu, usianya belum genap 16 tahun. Jumangilah orang pertama berani menuruni dasar kawah Gunung Merapi. Karena itu, banyak orang menjuluki pria yang senang menggunakan ikat kepala jarik ini Gatotkaca dari Merapi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Baca Juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Online Paling Meunguntungkan
Aduh maaak, terima kasih Tuhan, terima kasih webmaster. Saya bisa kuliahkan anak dan membantu biaya berobat ibu saya yg sakit dengan dana ini. Setelah itu saya betul2 percaya bahwa program bisnis ini bener2 bekerja. Sejak itu saya mulai aktif mempromosikan bisnis ini ke siapa saja, lewat email, milis, sms, dll. Sekarang hasilnya sudah lebih dari 500 juta masuk ke rekening bank saya. Sekali lagi terima kasih webmaster program 5 milyar
. Klik Disini

Salam, Bambang Widjatmoko, Surabaya (Kesaksian)

Informasi penting: Teknik Membeli Rumah Terbaik

Masukkan nama & email anda di sini dan dapatkan informasi properti diatas, GRATIS!

Nama:

Email: